Kuis Benar atau Salah?
Klasifikasi Makhluk Hidup & KKA
AI itu bukan musuh. AI adalah teman yang siap membantu kita belajar dengan lebih cerdas dan semakin giat belajar banyak hal.
Belajar Koding bukanlah rumus sulit, tapi seni menyusun perintah—seperti memainkan alur kisah banyak hal.”
Belajar sambil bermain dengan mencipta, bukan mengkonsumsi semata”
Klasifikasi Makhluk Hidup & KKA
Masalah ini diperparah ketika kita menyadari bahwa asesmen yang dibuat seringkali tidak selaras dengan tujuan awal yang ingin dicapai. Fenomena ini menciptakan celah antara apa yang direncanakan dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan siswa. Di sinilah kita memerlukan alat bantu—sebuah instrumen yang tidak bertugas menggantikan peran guru, melainkan memperluas ruang kreativitas yang mungkin tertutup oleh kelelahan administratif.
Generative AI (Gen AI) hadir bukan sebagai penentu kebijakan di kelas, melainkan sebagai pendamping berpikir (sparring partner). Kualitas perencanaan yang dihasilkan tidak datang secara instan dari mesin, melainkan lahir melalui proses diskusi intens antara guru dan AI.
Proses tanya-jawab, klarifikasi berulang, hingga penyesuaian berdasarkan kondisi nyata di lapangan adalah kunci. Jika perencanaan diserahkan sepenuhnya secara buta kepada AI, kita berisiko kehilangan "ruh" pendidikan. Keputusan akhir dan intuisi tentang apa yang terbaik untuk murid tetap berada sepenuhnya di tangan guru. AI hanya membantu membukakan jalan; gurulah yang memilih arahnya.
Langkah pertama dalam perencanaan adalah menentukan tujuan. Gen AI sangat efektif dalam membantu kita memecah kompetensi besar menjadi butiran tujuan pembelajaran yang lebih kecil dan terukur.
Variasi Redaksi: AI dapat memberikan berbagai pilihan kalimat tujuan yang lebih operasional dan sesuai dengan taksonomi kognitif yang diinginkan.
Kontekstualisasi: Kita bisa meminta AI memberikan saran bagaimana sebuah tujuan pembelajaran disesuaikan dengan konteks lingkungan sekolah, meski pada akhirnya kita yang harus memvalidasi apakah saran tersebut masuk akal untuk murid kita.
Agar pembelajaran tidak monoton, kita membutuhkan variasi aktivitas. Gen AI dapat menjadi bank ide yang tidak terbatas. Ia bisa menyarankan metode diskusi, permainan simulasi, hingga proyek kolaboratif yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya.
Namun, setiap ide dari AI harus disaring melalui filter karakter peserta didik. Kita sebagai guru yang paling mengenal siapa yang cepat bosan di kelas, siapa yang lebih suka bergerak, dan siapa yang membutuhkan bantuan lebih. AI memberi bahan baku, guru yang meracik bumbunya.
Salah satu titik lemah dalam perencanaan seringkali adalah ketidaksinambungan antara tujuan dan asesmen. Gen AI membantu kita merancang bentuk asesmen yang lebih kreatif, mulai dari kuis interaktif hingga rubrik penilaian kinerja yang mendalam.
AI dapat membantu menyusun indikator keberhasilan yang sederhana namun mencakup aspek yang ingin dinilai. Tugas kita adalah memastikan bahwa instrumen tersebut adil dan benar-benar mencerminkan kemampuan murid di dunia nyata, bukan sekadar angka di atas kertas.
Penting untuk diingat bahwa AI tidak memahami dinamika emosional di dalam kelas secara utuh. Ia tidak tahu jika ada murid yang sedang bersedih atau jika cuaca sedang buruk sehingga konsentrasi kelas menurun. AI juga memiliki potensi bias dan kesalahan informasi.
Oleh karena itu, sikap bijak adalah kunci. Gunakan AI untuk mempercepat draf awal, namun luangkan waktu untuk melakukan refleksi: "Apakah rencana ini benar-benar cocok untuk kondisi nyata murid saya?" Tanggung jawab penuh atas perencanaan dan dampaknya tetap ada pada pundak guru sebagai pemimpin pembelajaran.
Perencanaan yang efektif lahir dari dialog yang sadar dan terarah antara teknologi dan empati manusia. Kualitas rencana pembelajaran kita tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan dari seberapa dalam dialog guru ↔ AI itu dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan lapangan.
Setelah memahami posisi AI sebagai partner diskusi, langkah berikutnya adalah mempraktikkannya secara langsung. Di artikel selanjutnya (Artikel #4), kita akan membedah secara teknis bagaimana menyusun kerangka modul ajar yang utuh dengan bantuan asisten cerdas ini. Mari bersiap untuk praktik secara nyata!
Pernahkah Anda merasa sudah bekerja sangat keras menyusun Modul Ajar, tapi saat di kelas, rasanya ada yang "tidak nyambung" dengan siswa? Atau mungkin Anda pernah merasa lelah karena asesmen hanya dianggap sebagai tumpukan soal di akhir bab yang harus dikoreksi?
Jika iya, Anda tidak sendirian. Banyak guru terjebak dalam rutinitas administratif di mana asesmen hanya menjadi "pelengkap penderita" di lampiran dokumen. Padahal, merujuk pada regulasi terbaru, asesmen adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan proses pembelajaran itu sendiri.
Mari kita obrolkan bagaimana cara menghidupkan asesmen dalam perencanaan pembelajaran kita dengan cara yang lebih sederhana, fleksibel, namun tetap bermakna.
Mari jujur: seringkali kita membuat asesmen karena "instruksi kurikulum" atau sekadar memenuhi kolom di Modul Ajar. Akibatnya, muncul fenomena copy-paste soal dari tahun lalu tanpa sempat berpikir apakah soal itu masih relevan dengan kebutuhan siswa saat ini.
Efeknya terasa di kelas. Kita memberikan nilai, tapi siswa tidak berkembang. Kita sibuk mengoreksi, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya salah dalam proses belajar mereka. Inilah saatnya kita mengubah sudut pandang: asesmen bukan lagi "vonis" atau beban di akhir, melainkan sebuah instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan dua hal ini:
Lampu Indikator di Dasbor Mobil: Asesmen berfungsi seperti indikator bensin atau mesin; ia memberi tahu guru kapan harus "tancap gas" materi atau kapan harus berhenti sejenak untuk memperbaiki pemahaman siswa yang keliru.
Cek Kesehatan Sebelum Maraton: Anda tidak akan memaksa seseorang berlari tanpa tahu kondisi fisiknya. Dalam Kurikulum Merdeka, ini disebut Asesmen Awal. Fungsinya bukan untuk memberi nilai, melainkan untuk memetakan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa. Hasilnya? Guru bisa memberikan pembelajaran yang tepat sasaran (terdiferensiasi) sejak hari pertama.
Berdasarkan literatur internasional dan regulasi nasional, kita perlu menyeimbangkan tiga fungsi asesmen di dalam Modul Ajar:
Assessment for Learning (Asesmen untuk Pembelajaran): Dilakukan selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik bagi guru dalam memperbaiki strategi mengajar dan bagi siswa untuk memperbaiki cara belajar mereka.
Assessment as Learning (Asesmen sebagai Pembelajaran): Di sini, siswa adalah penggerak utama. Melalui refleksi diri dan penilaian teman sejawat, siswa belajar memantau belajarnya sendiri. Ini adalah kunci dari metakognisi—kemampuan siswa untuk mengenali cara mereka belajar.
Assessment of Learning (Asesmen Hasil Belajar): Dilakukan di akhir periode (lingkup materi atau semester) untuk memastikan sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai.
Pembelajaran yang mendalam tidak hanya menilai hafalan. Kita perlu mengasah kompetensi global 6C (Character, Citizenship, Collaboration, Communication, Creativity, dan Critical Thinking) atau 8 DPL dalam konteks Indonesia. Guru memiliki keleluasaan dalam memilih teknik asesmen. Tidak harus selalu tes tertulis! Anda bisa menggunakan:
Observasi: Mengamati perilaku dan keterampilan siswa.
Performa: Tugas berupa presentasi, simulasi, atau produk.
Portofolio: Kumpulan karya siswa yang menunjukkan perkembangan belajar mereka secara otentik.
Asesmen yang mendalam membangun Agensi Siswa—membuat siswa merasa memiliki kendali penuh atas perjalanan belajarnya karena mereka tahu kriteria sukses yang diharapkan.
Dalam Modul Ajar, gunakan prinsip Desain Mundur (Backward Design):
Tentukan Tujuan Pembelajaran (TP): Apa kompetensi yang harus dikuasai siswa?
Rancang Asesmen: Bukti apa yang bisa meyakinkan saya bahwa mereka sudah paham? Tentukan kriteria ketercapaian (KKTP) yang jelas.
Rancang Aktivitas: Susun langkah pembelajaran yang menuntun siswa menuju bukti ketercapaian tersebut.
Ada beberapa kesalahan umum yang sering kita lakukan:
Ketergantungan pada Tes Tertulis: Mengabaikan proses dan hanya fokus pada skor angka.
Tanpa Umpan Balik yang Deskriptif: Memberikan nilai tanpa memberi tahu siswa bagaimana cara meningkatkannya. Umpan balik yang efektif adalah kunci keberhasilan pembelajaran.
Mengabaikan Asesmen Awal: Mengajar semua siswa dengan cara yang sama, tanpa peduli bahwa titik berangkat mereka berbeda-beda.
Zaman sekarang, guru bisa memanfaatkan bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk mempermudah penyusunan asesmen. AI bisa membantu kita membuat variasi soal yang kreatif, menyusun rubrik penilaian yang objektif, hingga menganalisis data perkembangan siswa dalam hitungan detik. Teknologi adalah alat, namun guru yang memahami esensi asesmen adalah pengendalinya.
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). (2025). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah (Edisi Revisi Tahun 2025). Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep Learning: Engage the World Change the World. Thousand Oaks, CA: Corwin.
Western and Northern Canadian Protocol (WNCP). (2006). Rethinking Classroom Assessment with Purpose in Mind: Assessment for Learning, Assessment as Learning, Assessment of Learning. Manitoba: Manitoba Education, Citizenship and Youth.